Minggu, 16 Juni 2013

Pantai Pok Tunggal


POK TUNGGAL



Pok tunggal, pantai yang sedang digandrungi oleh penikmat wisata alam saat ini. Senenarnya, sewaktu kami pergi ke Pantai Indrayanti, kami pernah membaca plank penunjuk pantai ini. Namun, waktu itu jalannya masih agak menyeramkan. Jadi kami leawti saja. Tapi bayangan plang penunjuk pantai itu sungguh membuat penasaran. Kami mulai berselancar di google untuk mencari informasi tentang pantai itu. Tak sulit mencari informasi mengenai pantai ini, karena banyak sekali blog yang membahas pantai ini. Kebanyakan dari blog itu menggambarkan pantai ini begitu indah, sunnhguh membuat kami makin penasaran.
Awalnya, kami berencana kemping di pantai itu bersama teman-teman kami. Namun, karena teman-teman tidak jadi, akhirnya kami memutuskan untuk pergi berdua saja, tanpa kemping. Rencana kami susun, diputuskan pada suatu minggu di Bulan Mei kami akan ke pantai itu.


Seiring berjalannya waktu, ada tambahan rencana. Imogiri akan menjadi tujuan sebelum kami mengunjungi pantai yang membuat kami penasaran itu. Kami di ‘iming-imingi’ oleh teman kami sebuah foto. Foto sebuah suangai dibawah jembatan gantung, sungai yang begitu jernih. Katanya foto itu diambil sekitar jam 5, ketika sunset, itulah mengapa kami juga memilih untuk pergi pada sore hari. Karena letaknya tak begitu jauh dari jogja, sore hari di hari sabtu kami menyempatkan menyambangi jembatan itu. Kami sedikit kesulitan mencari lokasi ini, karena letaknya berada di pedesaan dan tak ada plank penunjuk jalan ke jembatan ini. Ya, mungkin karena jembatan ini memang bukan tempat wisata jadi tak di buat plank penunjuk jalan. Kami bertanya kepada warga sekitar dan hampir saja kami salah jalan. Sedikit ada rasa takut sebenarnya, mengingat daerah sana masih agak sepi dan banyak pepohonan yang terlihat seperti berada di dekat hutan. Namun, suasana di desa itu begitu asri dan  menyejukkan. Ada rasa damai ketika kami melewati desa saat menuju jembatan itu. Setelah beberapa kali bertanya, akhirnya kami menemukan jembatan itu. Namun sayang, karena habis hujan, air sungainya agak keruh. Di jembatan itu kami sempatkan sedikit berfoto-foto, biasa lah untuk kenangan. Karena hari sudah semakin sore, kami pun memutuskan untuk pulang dan beristirahat. Karena hari berikutnya akan menjadi hari yang panjang untuk kami.
Hari yang kami nanti-nanti telah tiba :D siang itu hari sedang cerah. Matahari nampaknya sedang senang hari ini,wkwkw. Kami tak perlu susah-susah mencari pantai ini. Ya, karena kami sudah hafal dengan jalan menuju pantai yang ada di Wonosari. Hanya saja letak pantai ini yang cukup jauh dari jogja pastilah akan sangat melelahkan. Kami memacu kendaraan dengan santai, agar dapat menikmati perjalanan. Pemandangan di sepanjang perjalanan memang lumayan memanjakan mata, apalagi saat melewati Bukit Patuk. Tak terasa kami sudah menempuh separuh perjalanan, kami sudah memasuki wilayah Wonosari. Teringat sesuatu, tepatnya setahun silam. Ya, jalanan ini pernah kami lewati setahun silam, tepatnya bulan Juni. Pikran melayang ke masa itu, masa di mana kami masih ilegal. Dan sekarang kami melewati jalanan ini (lagi) dengan status yang berbeda, legal.
Akhirnya kami sampai di gang masuk pantai yang kami tuju. Cukup membayra retribusi seiklasnya saja, ya itung-itung membantu warga desa setempat. Di plank tertulis “Pantai PokTunggal, 1 Km”. Mungkin memang benar 1 km, tapi jalananny itu lho, mantap banget. Jalanan yang tak begitu lebar, dan belum diaspal. Jalanan yang hanya dibuat oleh warga desa setempat dengan menggunakan bebatuan kapur. Agak ngeri sepertinya jika ada mobil yang berpapasan di jalan itu. Menurut informasi, memang warga setempat enggan jika jalan itu diaspal oleh pemerintah, entah kenapa. Jalanan yang hanya 1 km tapi terasa begitu jauh karena kondisi jalan yang kurang oke. Namun stelah beberpa saat, hamparan pantai dengan pasir putih, dan cukup luas terpampang di hadapan kami. Tebing tinggi menjulang di sisi pantai. Sungguh terbayar semua lelah di perjalanan tadi. Kami memutuskan untuk naik ke bukit yang ada timur pantai ini. Di atas bukit, kami bisa memandang luas pantai ini. Berbeda dengan pantai-pantai yang lain. Bukit yang luas di tumbuhi banyak pepohonan khas pantai yang aku tak tau namanya dapat menjadi tempat berteduh, terlebih sudah disediakan “lincak” semacam kursi yang terbuat dai bambu. Angin bertiup sepoi-sepoi, menyejukkan. Kami beristirahat untuk menikmati pemandangan, cukup lama. Tak hanya itu, kami berkeliling di bukit kecil itu, ya sekedar untuk mendokumentasikan perjalanan kami. Tak terasa, ternyata hari sudah semakin sore, kami memutuskan untuk turun dan berjalan-jalan di tepi pantai dan menuju sebuah pohon yang bentuknya sangat unik. Pohon Duras. Pohon inilah yang menjadi daya tarik pantai ini. Pohon ini sulit tumbuh, sehingga wisatawan dilarang memanjat di pohon ini. Kalau sekedar foto-foto disekitar pohon ini bolehlah. Asal ingat aturannya, jangan merusak pohon ini. Ya, tak terasa sudah sore, sebenarnya masih ingin berlama-lama di pantai ini. Tapi yasudah lah, kami pun pulang dengan persaan puas. Tak rugi lah mengunjungi pantai ini, meskipun harus dengan perjuangan perjalanan yang jauh dan jalan yang bergeronjal :p 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar